Bagaimana Bisa, Aceh Daerah Modal Menjadi Propinsi Termiskin Di Sumatra

Bagaimana Bisa, Aceh Daerah Modal Menjadi Propinsi Termiskin Di Sumatra

Fikroh.com – Membaca berita edisi 15 Februari 2021 berjudul “Aceh Kembali Jadi Provinsi Termiskin di Sumatera” membuat kami orang Aceh terengah-engah, bagaimana bisa provinsi yang dulunya dijuluki Daerah Modal oleh Bung Karno menjadi provinsi termiskin urutan pertama di Sumatera. Berkaca pada zaman dulu orang Aceh mengumpulkan emas membeli pesawat Prakemerdekaan RI, lantas ketika 75 tahun RI Merdeka mengapa Aceh menjadi Provinsi no Wahid termiskin di Pulau Sumatera. 

Aceh merupakan Provinsi terujung Sumatera, tentunya perhatian pemerintah pusat diharapkan tidak di nomor sekian kan. Komitmen Presiden Joko Widodo membantu Aceh sudah direalisasikan dengan kunjungannya beberapa kali ke Aceh, bukankah perhatian pemerintah Pusat selama ini untuk Aceh sudah maksimal. Aceh tidak asing di mata Presiden Jokowi, lantas faktor apa yang menyebabkan Aceh menjadi Provinsi Termiskin di Sumatera. Jawabannya tanyakan pada rumput yang bergoyang dalam lirik lagu Ebiet. 

Bentuk komitmen dan kepedulian Pemerintah Pusat kepada Aceh tertuang dalam UU Nomor 20 Tahun 2019 tentang APBN 2020. Aceh pada Tahun 2020 mendapatkan suntikan dana tambahan sebesar 8,3 triliun bersumber dari Otsus, dana ini sebenarnya diperuntukkan untuk pembangunan dan pengentasan kemiskinan di Aceh. Namun lagi-lagi pada Februari 2021 Aceh mendapatkan Rapor Merah dengan Peringkat Pertama Termiskin di Sumatera. Terus, apa kerja Pemerintah Aceh selama ini?. 

APBA Aceh pada tahun 2020 mencapai angka Rp 15,798 triliun yang sebelumnya Rp 17,279 triliun setelah terjadinya pengurangan untuk penanganan Pandemi Covid-19 sebanyak 2,3 triliun, ditambah lagi dana Otonomi khusus untuk Aceh sebesar 8,3 triliun. Dengan dana sebesar ini kalau benar-benar dialokasikan untuk peningkatan perekonomian dan pengentasan kemiskinan tentu angka kemiskinan di Aceh bisa ditekan. 

Selanjutnya dana penanggulangan Covid sebesar 2,3 triliun tentu dialokasikan untuk membantu masyarakat yang terdampak pandemi Covid-19, entah sudah terbantu atau belum, hanya tuhan yang tau. Sejatinya Aceh dengan keistimewaan dan kekhususan yang dimiliki, tentu akan membawa Aceh ke arah yang lebih baik. Entah dimana akar tunggal masalah kemiskinan di Aceh, hingga terdampak demikian. Sebagai Orang Aceh, tentunya penulis merasa malu dengan torehan prestasi yang di raih oleh Aceh. 

Sejatinya, Aceh mampu bangkit dari keterpurukannya, pasca Perdamaian RI dan GAM, pemerintah pusat sudah berkomitmen membantu Aceh, justru yang didapatkan Aceh malah sebaliknya, selalu terpuruk dan terpuruk. Sudah terpuruk di MTQ, terpuruk pula di pengentasan kemiskinan. Aceh hebat hanya label, tidak hebat seperti yang digaungkan-gaungkan, hebatnya di merek, bukan di produk, inilah Aceh. Ibarat kata bijak “Uot Jalo Toeh Kapai” (telan perahu, keluar kapal). Nyoe keuh Aceh (inilah Aceh). 

Teringat dalam satu bait syair Aceh era 90 an karya Yusbi Yusuf “Meunyoe Aceh Nyoe Daerah Modal, Ureung Bi Pangkai Pakoen Ek Susah” (kalau Aceh ini Daerah Modal, Kenapa yang Kasih Modal Bisa Susah). 

Yang bisa menjabarkan syair di atas adalah pemangku kekuasaan, dengan jumlah APBA Rp 15,798 triliun, dana penanggulangan Covid 19 sebesar 2,3 triliun, plus tambahan dana Otsus sebesar 8,3 triliun pada 2020, Aceh masih saja meraih predikat lulus bersyarat. 

Kemiskinan Berdasarkan Data BPS

Berdasarkan data BPS, Aceh masuk dalam daftar termiskin di Sumatera, namun aplikasi dilapangan justru berbanding terbalik. Mari kita lihat lagi data pengguna sepeda motor di Aceh “pada 2020 total penjualan motor di Aceh mencapai angka 106.000 unit” (sumber: Serambi Indonesia edisi 12 Februari 2021).

About Global Muslim

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Advertisement