Apakah Orang Pingsan Atau koma Wajib Shalat?

Apakah Orang Pingsan Atau koma Wajib Shalat?

Fikroh.com – Apakah orang yang pingsan atau koma tak sadarkan diri wajib mengqadha shalat? Ada perbedaan pendapat dalam masalah ini dalam madzhab fikih.

Sebagaimana ketetapan dari Alloh dan Rosul-Nya bahwa
shalat lima waktu adalah fardu ‘ain atau wajib bagi setiap orang. Dengan
memenuhi beberapa syarat wajibnya, diantaranya islam, baligh dan
berakal sehat. Dasar hukum wajibnya sholat sudah disebutkan oleh Alloh
dalam al-Qur’an.

Pertama Firman Alloh :

 
وَاَقِيْمُوْ
الصَّلَوْةَ وَآتُوْالزَّكَوةَ وَمَاتُقَدِّمُوْا لاَ نْفُسِكُمْ مِّنْ
خَيْرٍ تَجِدُوْهُ عِنْدُاللهِط اِنَّ اللهَ بِمَا
تَعْمَلُوْنَ بَصِيْرٌ 

Artinya : “Dan
dirikanlah sholat dan tunaikanlah zakat dan apa-apa yang kamu usahakan
dari kebaikan bagi dirimu, tentu kamu akan dapat pahalanya pada sisi
Allah sesungguhnya Allah Maha Melihat apa-apa yang kamu kerjakan
.” (Al-Baqarah: 110)


وَاَقِيْمُوْ الصَّلَىةَ وَآتُوْ الزَّكَوةَوَارْكَعُوْامَعَ الرَّاكِعِيْنَ
 

Artinya: “Dan dirikanlah sholat, tunaikanlah zakat dan rukulah beserta orang-orang yang ruku’.” (Al-Baqarh : 43)

Dan juga hadits Nabi,

عَنْ
ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بُنِيَ الْإِسْلَامُ عَلَى خَمْسٍ
شَهَادَةِ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ
اللَّهِ وَإِقَامِ الصَّلَاةِ وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ وَالْحَجِّ وَصَوْمِ
رَمَضَانَ

Dari Ibnu Umar Radhiyallahu ‘anhuma, dia berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Islam
dibangun di atas lima (tonggak): Syahadat Laa ilaaha illa Allah dan
(syahadat) Muhammad Rasulullah, menegakkan shalat, membayar zakat,
hajji, dan puasa Ramadhan
”. [HR Bukhari, no. 8].

Adapun mengenai apa hukum shalat bagi orang yang pingsan atau koma? Maka disini ada beberapa pendapat ulama,

Pendapat pertama:

Tidak
wajib qadha secara umum bila pingsannya menghabiskan waktu satu shalat.
Misalnya belum shalat Zuhur lalu baru sadar setelah waktu Asar maka
gugurlah shalat Zuhur atas dirinya.

Ini adalah pendapat madzhab
Syafi’iyyah dan Malikiyyah serta didukung oleh Ibnu Hazm. Juga merupakan
salah satu qaul dalam madzhab Hanbali.[1] Pendapat inilah yang
dikuatkan oleh Syekh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin dalam kitabnya
Syarh Al-Mumti’ (jilid 2, hal. 17, cetakan Dar Ibnu Al-Jauzi tahun 1428
H).

Dalilnya adalah keumuman hadits dari Aisyah.

رُفِعَ
الْقَلَمُ عَنْ ثَلَاثٍ عَنِ النَّائِمِ حَتَّى يَسْتَيْقِظَ وَعَنِ
الصَّبِيِّ حَتَّى يَحْتَلِمَ وَعَنِ الْمَجْنُونِ حَتَّى يَعْقِلَ 

Artinya : “Qalam
(catatan amal) itu diangkat dari tiga orang: orang tidur sampai dia
bangun, anak kecil sampai dia mimpi dewasa dan orang gila sampai dia
sadar.”
(HR. Ahmad, Abu Daud, At-Tirmidzi, An-Nasa`iy dan Ibnu Majah).

Hadits
ini juga diriwayatkan dari Ali dengan redaksi senada, meski para ulama
seperti An-Nasa`iy dan Ad-Daraquthni menyatakannya mauquf kepada Ali. (Lihat Al-Ilal oleh Ad-Daraquthni 3/72-73, no. 291)

Ibnu
Abdil Barr mengatakan, “Hujjah Malik dan yang sependapat dengannya
serta madzhab Ibnu Umar dalam masalah ini adalah karena Al-Qalam (pena)
itu telah diangkat dari orang yang pingsan berdasarkan qiyas dari orang
gila yang telah disepakati tidak wajib mengqadha shalat. Sebab, tidak
ada yang serupa dengan orang pingsan (dalam hadits di atas –penerj)
kecuali dua point asal yaitu orang gila yang hilang akal dan point orang
tidur.” Al-Istidzkaar 1/288.

Juga berdasarkan hadits Aisyah yang diriwayatkan oleh Ad-Daraquthni dan Al-Baihaqi:

أَنَّ
عَائِشَةَ زَوْجَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سَأَلَتْ
رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنِ الرَّجُلِ يُغْمَى
عَلَيْهِ فَيَتْرُكَ الصَّلَاةَ فَقَالَتْ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى
اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «لَيْسَ بِشَيْءٍ مِنْ ذَلِكَ قَضَاءٌ إِلَّا
أَنْ يُغْمَى عَلَيْهِ فِي وَقْتِ صَلَاةٍ، فَيَفِيقُ وَهُوَ فِي وَقْتِهَا
فَيُصَلِّيهَا»

Artinya
: “Aisyah istri Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bertanya kepada
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang seorang yang pingsan
dan terluput shalat karenanya. Aisyah mengatakan, Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak ada qadha untuk itu sedikitpun,
kecuali kalau dia sadar di waktu shalat maka hendaklah dia melaksanakan
shalat itu.” Sunan Ad-Daraquthni no. 1860, Al-Baihaqi dalam Al-Kubra no. 1820

Tapi
hadits Aisyah ini sangat lemah bahkan bisa jadi palsu karena melalui
jalur Hakam bin Abdullah bin Sa’d Al-Ayli, Yahya bin Ma’in mengatakannya
”tidak tsiqah dan tidak amanah”, An-Nasa`iy mengatakannya matruk,
Al-Bukhari mengatakan, ”Mereka meninggalkannya” sehingga Ibnu ’Adi
berkesimpulan, ”Kelemahan jelas pada hadits-haditsnya.”Al-Kamil oleh Ibnu ‘Adi, 2/478-483

Abu
Hatim mengatakannya, ”Matrukul hadits, tidak boleh ditulis haditsnya,
biasa berdusta.” Abu Zur’ah juga membuang haditsnya dan mengatakan, ”Dia
dhaif, jangan meriwayatkan hadits darinya.” Al-Jarh wa At-Ta’dil oleh Ibnu Abi Hatim 3/121.

Imam Ahmad berdasarkan nukilan Abu Zur’ah mengatakan hadits-haditsnya palsu. Mausu’atu Aqwal Ahmad bin Hanbal fii Ar-Rijaal 1/284

Ibnu Hibban juga mengatakannya biasa meriwayatkan hadits-hadits palsu dari orang-orang yang terpercaya. Al-Majruuhiin 1/284

Aroma
kepalsuan jelas dalam riwayat ini, sebab kalau riwayat ini benar ada
maka para sahabat tidak akan berijtihad sebagaimana yang akan dijelaskan
nanti.

Dalil lain adalah qiyas dengan wanita haidh sebagaimana
pengqiyasan madzhab Maliki atau diqiyaskan dengan orang gila sebagaimana
pengqiyasan madzhab Asy-Syafi’i dan Ibnu Hazm.
Pendapat ini juga didasarkan pada beberapa atsar dari sahabat:

Atsar
Ibnu Umar sebagaimana diriwayatkan oleh Ad-Daraquthni dalam sunannya
(no. 1861, 1862 dan 1863) dan juga diriwayatkan oleh Malik dalam
Al-Muwaththa` no. 33 dimana Ibnu Umar pernah pingsan dan tidak mengganti
shalat yang ia tinggalkan saat pingsannya itu. Akan tetapi dalam
beberapa riwayat lain dinyatakan pula bahwa Ibnu Umar mengganti
shalatnya dalam ukuran satu hari satu malam pingsan, sehingga riwayat
dari Ibnu Umar ini belum sempurna bila dijadikan dalil bagi madzhab
diatas.

Atsar Anas bin Malik sebagaimana diriwayatkan oleh Ibnu
Al-Mundzir dalam kitab Al-Awsath: Katsir bin Syihab menceritakan kepada
kami di Bagdad, Muhammad bin Sa’id bin Sabiq menceritakan kepada kami,
Amr yakni Ibnu Abi Qais menceritakan kepada kami, dari ’Ashim yang
berkata, ”Anas bin Malik pernah pingsan dan dia tidak mengganti
(mengqadha`) shalatnya.”
Tapi Atsar ini masih perlu ditinjau ulang
karena belum jelas siapa ’Ashim dalam yang meriwayatkan dari Anas di
sini. Bila dia ’Ashim bin Abi Nujud atau ’Ashim bin Bahdalah maka sanad
ini lemah karena dia tak pernah bertemu dengan Anas bin Malik sehingga
statusnya munqathi’ (terputus), tapi bila dia adalah ’Ashim Al-Ahwal
maka sanadnya bagus karena dia memang mendengar dari Anas. Sedangkan Amr
bin Abi Qais biasa meriwayatkan dari mereka berdua.

Pendapat para tabi’in:

1.
Atsar dari Thawus yang mengatakan, ”Apabila seorang yang sakit itu
pingsan lalu dia sadar maka dia tak perlu mengulang shalatnya.” Mushannaf Abdurrazzaq 2/479, no. 4154

2.
Atsar Ibnu Sirin yg diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah, Husyaim
menceritakan kepada kami, Yunus bin Ubaid mengabarkan kepada kami, dari
Ibnu Sirin bahwa dia pernah pingsan beberapa hari dan tidak mengqadha
(shalat) sedikitpun. Mushannaf Ibnu Abi Syaibah, no. 6657.

3.
Atsar dari Adh-Dhahhak bin Muzahim bahwa dia pernah pingsan dan
disampaikan kepadanya bahwa dia belum shalat ini dan itu tapi dia malah
menjawab, ”Tidak ada yang luput dariku” dan dia tidak mengganti
shalat-shalat tersebut.

4.
Pendapat Hasan Al-Bashri yang mengatakan, ”Orang yang pingsan wajib
mengganti puasa tapi tidak perlu mengganti shalat sebagaimana wanita
haidh yang wajib mengganti puasa tapi tidak mengganti shalat.”

5.
Pendapat ’Amir Asy-Sya’bi yang mengatakan, ”Orang yang pingsan tidak
mengganti shalat, bercontoh kepada para ummahatul mukminin dimana
ketika mereka haidh maka mereka tidak mengganti (shalat) mereka.”

6. Fatwa Az-Zuhri bahwa orang yang pingsan tidak mengganti shalat sebagaimana ditanyakan kepadanya oleh Ma’mar. Al-Mausu’ah Al-Kuwaitiyyah, op.cit.

Pendapat kedua: 

Wajib
Qadha baik sebentar maupun lama. Ini adalah pendapat madzhab
Hanbali.[15] Ini termasuk pendapat menyendiri madzhab Hanbali dibanding
madzhab lainnya sebagaimana diungkapkan oleh Al-Mardawi dalam kitab
Al-Inshaf. Al-Inshaf fii Ma’rifati Ar-Rajih min Al-Khilaaf 1/390.

Dalilnya
adalah qiyas dan atsar sahabat. Qiyasnya adalah mengqiyaskan orang
pingsan dengan orang tidur dimana yang tidur tetap wajib mengqadha
shalat yang dia tinggalkan. Juga orang yang pingsan atau koma tetap
wajib mengqadha puasa yang dia tinggalkan.
Lihat Al-Mughni oleh Ibnu Qudamah 1/240 (kitab Ash-Shalaah, bab:
Al-Mawaqiit, mas`alah: Al-Mughma ‘alaih yaqdhii jamii’as shalawaat….)

Pendapat ini dibantah oleh Al-Utsaimin dalam Asy-Syarh Al-Mumti’:

”Jika
kita melihat segi alasan maka kita dapati bahwa yang kuat adalah
pendapat yang mengatakan tidak perlu mengqadha sama sekali. Karena,
mengqiyaskan ornag pingsan dengan orang tidur tidak benar. Orang tidur
bisa bangun sendiri atau dibangunkan, sedangkan orang pingsan sama
sekali tidak merasa. Lagi pula, tidur itu sering terjadi dan hal biasa,
sehingga kalau kita katakan dia tidak perlu mengqadha maka akan banyak
kewajiban yang akan gugur darinya. Beda halnya dengan pingsan yang ada
orang tak pernah mengalaminya seumur hidup. Kadang ada orang jatuh dari
ketinggian hingga pingsan atau terkena penyakit yang membuatnya koma.” Asy-Syarh al-Mumti’ jilid 2 hal. 17.

Sedangkan
atsar setidaknya diriwayatkan dari tiga orang sahabat, yaitu Samurah
bin Jundab, ’Imran bin Hushain dan Ammar bin Yasir.

Atsar Samurah dan Imran ada dalam satu paket riwayat:

Ibnu Abi Syaibah meriwayatkan dalam Al-Mushannaf,

حَدَّثنا
حَفْصٌ، عَن التَّيْمِيِّ، عَنْ أَبِي مِجْلَزٍ، قَالَ: قيلَ لِعِمْرَانَ
بْنِ حُصَيْنٍ: إِنَّ سَمُرَةَ بْنَ جُنْدُبٍ يَقُولُ في الْمُغْمَى
عَلَيْهِ: يَقْضِي مَعَ كُلِّ صَلاَةٍ مِثْلَهَا، فَقَالَ عِمْرَانُ:
لَيْسَ كَمَا قَالَ، يَقْضِيهِنَّ جَمِيعًا. 

Hafsh
menceritakan kepada kami, dari At-Taimi, dari Abu Mijlaz, Dia berkata,
”Disampaikan kepada Imran bin Hushain bahwa Samurah bin Jundab
mengatakan orang yang pingsan itu kalau ingin mengqadha shalat maka dia
mengqadhanya bersama shalat yang sama. Maka Imran berkata, ”Tidak
begitu, tapi dia harus mengqadhanya sekaligus.”

Juga diriwayatkan
oleh Ibnu Al-Mundzir dalam Al-Awsath melalui jalur Zuhair dari Sulaiman
At-Taimi pula. Di sini baik Samurah maupun Imran sama-sama memandang
orang pingsan wajib mengqadha shalatnya, hanya saja menurut Samurah
qadhanya dilakukan sesuai waktu shalat yang ada. Misalnya kalau dia
ketinggalan shalat Zuhur maka dia mengqadhanya nanti bersama shalat
Zuhur yang wajib untuknya. Sedangkan Imran memandang bahwa dia harus
mengerjakan semua shalat yang ketinggalan itu sekaligus tanpa menunggu
kehadiran waktu shalat itu berikutnya. Wallahu a’lam. 

Sanad
ini bermasalah karena menurut para Ibnu Al-Madini Abu Mijlaz yang
bernama asli Lahiq bin Humaid ini tidak pernah bertemu dengan Samurah
bin Jundab maupun dengan Imran bin Hushain, demikian kata Ali bin
Al-Madini berdasarkan riwayat Ibnu ’Asakir dalam Tarikh Ad-Dimasyq jilid
64 hal. 28 dan juga disebut oleh Ibnu Hajar dalam Tahdzib At-Tahdzib
(11/172). Dengan demikian sanad ini lemah.

Sementara riwayat
Ammar bin Yasir yang mendukung pendapat ini sebagaimana disinggung oleh
Ibnu Qudamah dlam Al-Mughni dari riwayat Al-Atsram. Berhubung Sunan
Al-Atsram tidak sampai kepada kita tapi riwayat ini dari jalur Al-Atsram
masih bisa ditemukan dalam kitab Al-Ausath Ibnu Al-Mundzir. Ibnu
Al-Mundzir mengatakan. Al-Awsath 4/391-392, no. 234 dan 235

حَدَّثَنَا
مُوسَى، ثنا أَبُو بَكْرٍ الْأَثْرَمُ، ثنا هَارُونُ بْنُ عَبْدِ اللهِ،
ثنا مُحَمَّدُ بْنُ الْحَسَنِ وَهُوَ مُحَمَّدُ بْنُ الْحَسَنِ بْنِ أَبِي
الْحَسَنِ الْمَخْزُومِيُّ قَالَ: حَدَّثَنِي عَبْدُ اللهِ بْنُ الْحَارِثِ
الْأَنْصَارِيُّ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ أُمِّ سَعِيدٍ، مَوْلَاةِ عَمَّارٍ
وَكَانَتْ جَارِيَةَ عَمَّارٍ: ” أَنَّهُ غُشِيَ عَلَيْهِ ثَلَاثًا لَا
يُصَلِّي، ثُمَّ اسْتَفَاقَ بَعْدَ ثَلَاثٍ فَقَالَ: هَلْ صَلَّيْتُ ؟
فَقَالُوا: مَا صَلَّيْتَ مُنْذُ ثَلَاثٍ، فَقَالَ: أَعْطُونِي وُضُوءًا
فَتَوَضَّأَ ثُمَّ صَلَّى تِلْكَ الثَّلَاثَ ” 

”Musa
menceritakan kepada kami, Abu Bakar bin Atsram menceritakan kepada
kami, Harun bin Abdullah menceritakan kepada kami, Muhammad bin Hasan
yaitu Muhammad bin Hasan bin Abi Hasan Al-Makhzumi menceritakan kepada
kami, dia berkata, Abdullah bin Harits Al-Anshari menceritakan kepadaku,
dari ayahnya, dari Ummu Sa’id mawlah Ammar dan dia dulunya adalah budak
Ammar, “Bahwa dia (Ammar) pernah pingsan selama tiga hari tidak
melakukan shalat. Kemudian dia bangun setelah tiga hari itu dan
bertanya, “Apakah aku telah shalat?” Mereka menjawab, “Anda tidak shalat
sejak tiga hari yang lalu.” Diapun berkata, “Berikan aku air wudhu.”
Lalu dia berwudhu dan melaksanakan semua shalat di tiga hari tersebut.”

Dalam riwayat sebelumnya berbunyi,

 حَدَّثَنَا مُوسَى بْنُ هَارُونَ، ثنا أَبُو مُوسَى الْأَنْصَارِيُّ، ثنا مَعْنُ بْنُ عِيسَى، ثنا عَبْدُ اللهِ

 بْنُ
الْحَارِثِ بْنِ فُضَيْلٍ الْخَطْمِيُّ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ لُؤْلُؤَةَ،
مَوْلَاةِ عَمَّارِ بْنِ يَاسِرٍ: ” أَنَّهُ أُغْمِيَ عَلَيْهِ ثَلَاثًا
فَتَرَكَ الصَّلَاةَ ثُمَّ أَفَاقَ فَدَعَا بِوُضُوءٍ فَتَوَضَّأَ، ثُمَّ
ابْتَدَأَ صَلَوَاتِ الثَّلَاثِ حَتَّى فَرَغَ مِنْهَا ” 

“Musa
bin Harun menceritakan kepada kami, Abu Musa Al-Anshari menceritakan
kepada kami, Ma’n bin Isa menceritakan kepada kami, Abdullah bin Harits
bin Fudhail Al-Khathmi menceritakan kepada kami, dari ayahnya, dari
Lu`lu`ah mawla Ammar bin Yasir, “Bahwa Ammar pernah pingsan selama tiga
hari dan terluput shalat selama itu, kemudian dia sadar lalu meminta air
wudhu kemudian dia memulai shalatnya diketiga hari yang ketinggalan
tadi sampai selesai semua.”

Lu’lu`ah dan Ummu Sa’id mawlah Ammar
kemungkinan adalah dua orang yang sama karena sumber hadits ini bermuara
pada Abdullah bin Harits bin Fudhail Al-Khathmi Al-Anshari, dan saya
belum menemukan biografinya. Memang ada nama Lu`lu`ah mawlah Ummu Hakam
puteri Ammar bin Yasir yang disebutkan oleh Al-Hakim dalam Al-Mutadrak,
tapi belum ditemukan jarh maupun ta’dil terhadapnya.

Sedangkan
Harits bin Fudhail sendiri meski dianggap tsiqah oleh mayoritas ulama
jarh dan merupakan perawi dalam Shahih Muslim, tapi Imam Ahmad
mengatakannya, “Haditsnya tidak terjaga, dalam riwayat lain dia katakan,
haditsnya tidak terpuji.” Mausu’at Aqwaal Ahmad bin Hanbal fir Rijaal 1/215, no. 432

Lagi
pula riwayat ini berlawanan dengan riwayat-riwayat lain dari Ammar yang
mengatakan dia pingsan hanya sehari semalam sebagaimana yang akan
disebutkan nanti di pendapat ketiga.
Tokoh tabi’in yang mendukung
pendapat ini adalah ‘Atha`, Thawus dan Mujahid, dimana mereka
mengatakan, orang yang pingsan harus mengganti shalatnya sebagaimana
dia mengganti puasa Ramadhan. Ibnu Abi Syaibah dalam Al-Mushannaf 4/435, no. 6650

Pendapat ketiga:

Bila
pingsannya hanya satu hari satu malam atau meninggalkan lima kali
shalat maka wajib qadha, tapi bila lebih dari itu maka tidak wajib
mengqadha. Ini adalah pendapat madzhab Hanafi Lihat
Al-Mausu’ah Al-Kuwaitiyyah. Op.cit. Lihat pula buku pedoman madzhab
Hanafi seperti Bidayatul Mubtadi beserta syarhnya Al-Hidayah oleh
Al-Marghinani 1/76, Tabyin Al-Haqa`iq syarh Kanz Ad-Daqa`iq oleh
Az-Zaila’i 1/203-204
.

Dalil pendapat ini adalah istihsan dan menggabung atsar-atsar yang teriwayatkan dari para sahabat.
Istihsan
yang dipakai adalah bila pingsan itu sebentar maka dia diqiyaskan
dengan tidur dan tidak memberatkan bila harus diqadha, sementara bila
pingsan atau koma itu lama maka akan memberatkan dan dia dianalogikan
dengan gila yang biasanya berlangsung lama. Orang tidur wajib qadha
shalat sementara orang gila tidak wajib qadha shalat yang
ditinggalkannya selama kegilaannya.
Mereka menetapkan ukuran satu
hari satu malam atau lima kali shalat (ada perbedaan sedikit antara Abu
Hanifah dengan Muhammad bin Hasan) berdasarkan atsar beberapa sahabat
sebagai berikut:

A. Atsar Ammar bin Yasir. 

Abdurrazzaq
meriwayatkan dari Ats-Tsauri, dari As-Suddi, Yazid menceritakan
kepadaku, bahwa Ammar bin Yasir pernah kena lemparan sehingga dia
pingsan dan luput shala Zuhur, Asar, Magrib, Isya. Kemudian dia sadar di
tengah malam lalu dia shalat Zuhur, kemudian Asar, kemudian Magrib
kemudian Isya. Mushannaf Abdurrazzaq no. 4156. Juga diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah dari Waki’ dari Sufyan.

Tapi
sanad ini bermasalah karena Yazid yang dalam satu riwayat disebut
sebagai mawla Ammar itu majhul, atas dasar inilah Asy-Syafi’i melemahkan
riwayat Ammar ini sebagaimana disebutkan oleh Al-Baihaqi dalam kitab
Ma’rifatu As-Sunan wal Atsar jilid 2, hal. 221.

Dengan demikian
tidak ada yang tsabit riwayat dari Ammar cerita tentang kepingsanannya
tersebut baik riwayat Lu`lu`ah ataupun Ummu Sa’id maupun riwayat Yazid
ini.

B. Atsar Ibnu Umar. 

Bila Asy-Syafi’i dan
Malik berpedoman pada atsar Umar yang mengatakan dia tidak sama sekali
mengqadha shalat saat dia pingsan maka Hanafiyyah menybutkan riwayat
dari Ibnu Umar yang muqayyad atau merinci bahwa Ibnu Umar bila pingsan
selama satu hari maka dia mengqadha sedangkan kalau lebih dari itu maka
dia mengqadha pada hari dia sadar saja sedangkan yang sebelumnya tidak
lagi diqadha.

Berikut beberapa teks riwayat atsar Ibnu Umar yang dijadikan dalil oleh madzhab Hanafi: 

  • Abdurrazzaq
    meriwayatkan dari Ats-Tsauri, dari Ibnu Abi Laila, dari Nafi’ bahwa
    Ibnu Umar pernah pingsan selama sebulan dan dia tidak mengganti
    shalat-shalat yang telah dia tinggalkan tapi hanya mengganti di hari
    yang dia sadar. Mushannaf Abdurrazzaq no. 4153
  • Ibnu
    Abi Syaibah meriwayatkan, Husyaim menceritakan kepada kami, dari
    Asy’ats dan Ibnu Abi Laila dari Nafi’, bahwa Ibnu Umar pernah pingsan
    beberapa hari lalu dia sadar kemudian mengganti shalat di hari dia sadar
    itu dan tidak mengganti yang sebelumnya.
    Mushannaf Ibnu Abi Syaibah, no. 6648.
  • Muhammad
    bin Hasan meriwayatkan dalam kitab Al-Atsar, Abu Hanifah menceritakan
    kepada kami, dari Hammad, dari Ibrahim, dari Ibnu Umar RA tentang orang
    yang pingsan selama sehari semalam maka dia mengatakan, “Dia harus
    mengqadha (Shalat selama itu)”.
  • Ibnu Abi Laila dhaif, Dia
    adalah Muhammad bin Abdurrahman bin Abi Laila, Al-Hafizh mengatakannya,
    “shaduq, hafalannya sangat buruk.” (At-Taqrib 2/70, no. 6744).
    tapi dia dikuatkan oleh Asy’ats bin Sawwar
    yang juga dhaif, dengan demikian riwayat mereka bias naik menjadi hasan
    li ghairih. Tapi sayang dalam riwayat ini mereka menyalahi riwayat
    orang yang tsiqah yaitu Ayyub dan Ubaidullah dari Nafi’ yang menyatakan
    Ibnu Umar pingsan beberapa hari dan tidak mengqadha. Asy’ats bin Sawwar Al-Kindi, kata Al-Hafizh, “dha’if” (At-Taqrib, 1/77, no. 599).

Ad-Daraquthni meriwayatkan,

حَدَّثَنَا
دَعْلَجٌ , ثنا الْحَسَنُ بْنُ سُفْيَانَ , ثنا حَبَّانُ , ثنا ابْنُ
الْمُبَارَكِ , عَنْ سُفْيَانَ , عَنْ عُبَيْدِ اللَّهِ , عَنْ نَافِعٍ ,
عَنِ ابْنِ عُمَرَ , «أَنَّهُ أُغْمِيَ عَلَيْهِ يَوْمًا وَلَيْلَةً فَلَمْ
يَقْضِ» وَعَنْ سُفْيَانَ , عَنْ أَيُّوبَ , عَنْ نَافِعٍ , عَنِ ابْنِ
عُمَرَ «أَنَّهُ أُغْمِيَ عَلَيْهِ يَوْمًا وَلَيْلَةً فَلَمْ يَقْضِ» 

“Da’laj
menceritakan kepada kami, Hasan bin Sufyan menceritakan kepada kami,
Habban menceritakan kepada kami, Ibnu Al-Mubarak menceritakan kepada
kami, dari Sufyan, dari Ubaidullah, dari Nafi’, dari Ibnu Umar, bahwa
dia pernah pingsan selama sehari semalam tapi tidak mengqadha shalat.

Dari Sufyan, dari Ayyub, dari Nafi’, dari Ibnu Umar bahwa dia pernah pingsan sehari semalam dan tidak mengqadha.” Sunan Ad-Daraquthni, no. 1837, terbitan Darul Kutub Al-Ilmiyyah.

Selain
itu Ad-Daraquthni juga meriwayatkan dari jalur Ayyub bahwa Ibnu Umar
pingsan selama dua dan tiga hari tanpa mengqadha shalat yang dia
tinggalkan selama itu.
Ibrahim Al-Harbi meriwayatkan dalam Gharib Al-Hadits:

 حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ يُونُسَ , حَدَّثَنَا زَائِدَةُ , عَنْ عُبَيْدِ اللَّهِ , عَنْ

 نَافِعٍ: «أُغْمِيَ عَلَى عَبْدِ اللَّهِ يَوْمًا وَلَيْلَةً , فَأَفَاقَ , فَلَمْ يَقْضِ مَا فَاتَهُ , وَاسْتَقْبَلَ» 

  

“Ahmad
bin Yunus menceritakan kepada kami, Za`idah menceritakan kepada kami,
dari Ubaidullah, dari Nafi’ bahwa Abdullah (Ibnu Umar) pernah pingsan
selama sehari semalam lalu ketika dia sadar dia tidak mengqadha shalat
yang ketinggalan dan hanya melaksanakan yang di berikutnya.”

Juga
ada riwayat Abdurrazzaq dari Abdullah bin Umar Al-Umari, dari Nafi’
bahwa Ibnu Umar pingsan selama sehari semalam dan tidak mengqadha shalat
yang ketinggalan.

Riwayat dari Ubaidullah, Ayyub dan Abdullah
Al-Umari menyelisihi riwayat Ibnu Abi Laila dan Asy’ats. Ubaidullah di
sini adalah Ubaidullah bin Umar bin Hafsh bin ‘Ashim bin Umar bin
Khaththab Al-Umari tsiqah bahkan paling tsabat (terkuat) bila
meriwayatkan dari Nafi’, sedangkan saudaranya yaitu Abdullah dhaif, lalu
Ayyub di sini adalah As-Sikhtiyani tsiqah hafizh.

Dengan
demikian menunjukkan kelemahan dalil yang digunakan oleh madzhab Hanafi
bahwa Ibnu Umar mengqadha shalat bila pingsan satu hari satu malam.

Sedangkan
riwayat Ibrahim An-Nakha’i dari Ibnu Umar jelas dhaif karena terputus
dimana Ibrahim tidak pernah bertemu Ibnu Umar, ditambah lagi persoalan
kredibilitas Abu Hanifah yang di mata para ulama jarh wa ta’dil dianggap
dhaif haditsnya.

Tabi’in yang mendukung pendapat ini adalah
Ibrahim An-Nakha’i an Al-Hakam bin Abi Utaibah sebagaimana disebutkan
dalam Mushannaf Ibnu Abi Syaibah.

Tarjih

Melihat
dalil-dalil yang dikemukakan maka atsar yang shahih dari para sahabat
nabi hanyalah atsar Abdullah bin Umar yang justru mendukung pendapat
Syafi’iyyah dan Malikiyyah dimana Ibnu Umar tidak mengqadha shalat yang
ditinggalkannya karena pingsan.

Inilah yang kami anggap lebih
kuat dan peng-qiyas-an orang pingsan dengan orang gila lebih dekat
daripada meng-qiyas-kannya dengan orang tidur. Bahkan tidaklah aneh bila
meng-qiyas-kannya dengan wanita haidh yang juga tidak wajib qadha
shalat, karena baik yang pingsan maupun haidh, sama-sama berada di luar
kekuasaannya. Wallahu a’lam.

Kesimpulan:
Orang yang pingsan atau koma tidak perlu mengqadha shalat yang dia
tinggalkan selama pingsannya dan hanya melaksanakan shalat ketika dia
sadar. Wallahu a’lam.

Oleh Ust. Anshari Taslim

About admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Advertisement