Al-Jahiz: Ahli Biologi, Sastrawan, Teolog, Tapi Kocak/Humoris

Didalam bidang Teologi Al-Jahiz berguru kepada An-Nazzam, tokoh besar akidah Mu’Tazilah di masanya. Kecerdasannya di dalam tak terhitung disiplin pengetahuan mengakibatkan Al-Jahiz miliki daerah di lingkungan Mu’Tazilah, akidah formal Dinasti Abbasiyah semenjak era Al Ma’Mun. Menurut Ibn Nadim, Al-Jahiz membela Abu Hudzail Al-Allaf sementara Bisyr Ibn Al-Mu’Tamir menghujatnya. Dan di waktu yang hampir sejalan Ja’Far Ibn Mubasyir mengarang kitab untuk membantah statemen Al-Jahiz. Karir beliau melejit ketika Khalifah Al-Ma’Mun mengapresiasi karya tulisnya terkait institusi Kekhalifahan yang mengantarkannya jadi seorang katib di Baghdad. Berasal dari sinilah beliau mengawali karirnya sembari menghasilkan tulisan-tulisan brilian yang mencapai 200 buku, meskipun sekedar 30-An judul saja yang sanggup diidentifikasi pas ini.

Al-Jahiz sendiri apalagi membentuk firqah didalam Mu’Tazilah yaitu Jahiziyyah dimana genre ini memadukan akidah Mu’Tazilah dengan pengetahuan alam. Didalam tulisan-tulisannya berkaitan akidah, ia menjelaskan bahwa perbuatan-perbuatan manusia berasal berasal dari diri manusia sendiri dan dipengaruhi juga oleh hukum alam yang disebut Sunnatullah. Al-Jahiz juga mengatakan bahwa Al-Qur’An tersebut jism yang bisa berubah jadi pria atau wanita. Menurut Al-Jahiz, masyarakat neraka jadi bagian berasal dari barah neraka gara-gara Allah ﷻ udah memasukkan mereka ke dalamnya. Mungkin gagasan teori Evolusi ala Al-Jahiz dipengaruhi oleh akidah Mu’Tazilah yang menekankan akal untuk menafsirkan dalil Syar’I.

Mengetahui ini pun memengaruhi pemikiran Muammar bin Abbad yang sama-sama seorang teolog Mu’Tazilah. Muammar bin Abbad mengatakan bahwa Tuhan cuman menciptakan benda-benda materi. Adapun sesuatu yang singgah pada benda-benda tersebut adalah hasil berasal dari hukum alam. Misalnya, jika suatu batu dilemparkan ke didalam air maka gelombang yang dihasilkan oleh lemparan batu tersebut adalah hasil berasal dari ciptaan batu tersebut sendiri bukan kreasi Tuhan. Sebagai ulama Ushuluddin Mu’Tazilah, Al-Jahiz juga menulis kitab untuk menanggapi hujatan umat Kristen pada Islam. Kitab itu berjudul Jawaban pilihan atas orang Nasrani ( مختار في رد على النصارى; Mukhtār Fi Raddī ‘Alā An-Nashārā ).

Tak sekedar sebagai pakar hayati dan ulama Ushuluddin, Al-Jahiz adalah seorang sastrawan sebab dahulu beliau studi tata bahasa dan sastra berasal dari para ulama terkemuka layaknya Al-Asma’I, Abu Ubaidah, dan juga Abu Zaid. Kecakapannya pada bidang sastra dan public speaking tercermin berasal dari kitabnya yang berjudul Kitab Kepandaian bicara dan menyampaikan pernyataan ( كتاب البيان و التبيين; Kitāb Bayān Wa Tabyīn ) menjelaskan berkaitan kefasihan berpidato, surat menyurat, dan tulis-menulis dan juga cara memengaruhi orang melalui ketangkasan berbicara. Al-Jahiz yang getol bercanda ini pun mengarang karya tulis berjudul kitab orang-orang bakhil ( كتاب البخلاء; Kitāb Al-Bukhalā’ ) yakni sekumpulan anekdot tentang ketamakan manusia layaknya guru, pengemis, penyanyi, atau penulis implikasi sikap tidak tepat di dalam berhemat yang justru menjerumuskan mereka ke didalam kekikiran. Kitab ini diterjemahkan ke didalam bermacam bahasa terhitung bahasa Indonesia.

Kumpulan anekdot beliau yang lain adalah kitab bualan para Jariyyah dan bujang ( كتاب مفخرات الجوار و الغلمان; Kitāb Mufakharāt Al-Jawāri wal Ghilmān ) mengisahkan cerita-cerita erotis di kalangan rakyat Arab layaknya kisah Homoseksual dan lesbian lalu menyindir pelakunya secara sarkastik. Bukunya di dalam bidang Humaniora ialah Buku Orang Negro ( Kitab Al-Jinz ), mengabarkan sejarah orang Jinz atau orang Negro Afrika, kehidupan mereka, beserta kebudayaannya.

Sikap kerap bercandanya membawa dampak lebih dari satu ulama enggan mengambil rujukan berasal dari beliau. Diceritakan bahwa khalifah Al-Mutawakkil menarik lagi anak-anaknya berasal dari pembinaan al jahiz sehabis mereka ketakutan dengan kelakuan Al-Jahiz dan beliau pun memutuskan pensiun untuk lagi ke area kelahirannya. Kekonyolannya tersebut terbawa hingga menjelang akhir hidupnya pada year 868 M./255 H. waktu Khalifah Al-Mu’Tazz Billah berkuasa, Al-Jahiz sang ilmuwan nyeleneh memilih kematiannya dengan cara berbeda, tetapi sedikit elegan. Beliau meninggal global ketika akan mengambil suatu buku di perpustakaannya, rak buku tersebut jatuh menimpa tubuh Al-Jahiz yang tidak mampu menyelamatkan diri implikasi penyakit kelumpuhan keseluruhan pada satu sisi tubuh ( Hemiplegia ) yang dideritanya. Apalagi waktu kematiannya pun Al-Jahiz tetap menyajikan anekdotnya. Wallahu a’lam bisshawab.

Orang-Orang di abad ini pastinya lebih mengenal Charles Darwin sebagai pencetus teori Evolusi dan Natural selection dengan buku penelitiannya, The Origin of Species. Tapi segudang orang yang tidak cukup familiar dengan tokoh evolusionis di zaman keemasan Islam lebih kurang sepuluh abad sebelum karya Darwin dipublikasikan pertama kali, dialah Abu ‘Utsman Amr bin Bahr Al-Kinani Al-Basrah Al-Jahiz, seorang Arab anak-anak Afrika yang lahir di Basrah year 160 H./776 M. Beliau disebut Al-Jahiz yang secara harfiah penting bermata menonjol.

Lahir berasal dari keluarga simple tidak menyurutkan minat Al-Jahiz untuk menimba pengetahuan. Sehabis selesaikan pekerjaannya menjual ikan dekat irigasi kota Basrah beliau mendatangi majelis pengetahuan, berkumpul dengan para pemuda lain untuk mendiskusikan beraneka ilmu yang nantinya jadi dasar pemikiran beliau. Rasa hausnya pada pengetahuan ilmu mendorong Al-Jahiz untuk melanjutkan studinya selama 25 year agar menguasai bermacam pengetahuan layaknya Ushuluddin, Hayati, Sastra, dan Humaniora. Tak sekedar tersebut Al-Jahiz juga mendalami Filsafat Yunani, utamanya pemikiran Aristoteles yang pada selagi tersebut digemari oleh kaum cendikiawan.

Efek Aristotelian bisa dilihat berasal dari masterpiece beliau yang sepintas serupa buku Animalia Aristoteles berjudul Kitab Fauna-Fauna ( الحيوان: Al-Hayawān ) berupa ensiklopedia setebal tujuh jilid, berisi kira-kira 350 spesies fauna dilengkapi gambar- gambar ilustrasi dan juga klarifikasi detail tapi disajikan dengan penyampaian puitis diselingi anekdot. Al-Jahiz mengemukakan gagasannya terkait bagaimana fauna-fauna bertahan hidup, bertransformasi jadi spesies baru, dan menangani faktor-faktor lingkungan. Al-Jahiz yakin bahwa satu spesies fauna atau tumbuhan bisa mengalami transformasi jangka panjang supaya memunculkan spesies lainnya. Pada kitab itu dijelaskan pula bisa saja asal kejadian manusia berasal dari spesies kera, dan tumbuhan berasal berasal dari ganggang bahari yang terdampar di tepi pantai sesudah itu beradaptasi untuk hidup.

About Galih semar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *