Untitled Post

 Pernikahan adalah sebuah petualangan panjang, perjalanan yang tak akan kembali, banyak kerikil, rintangan serta berbagai onak yang akan menghadang di tengah perjalanan. Butuh bekal yang cukup untuk memulainya walaupun mesti tak sempurna. Salah satu bekal yang harus dimiliki  oleh kaum muslimin adalah Hal-hal yang mesti ketahui sebelum menempuh perjalanan panjang tersebut.

3 hal yang mesti kita ketahui sebelum_ menikah  :

  • Kesiapan mental dan ridho menerima apapun ketentuan Allah.
  • Bangun komunikasi dengan orang tua
  • Ketahuilah jika menikah itu dengan manusia bukan malaikat

Kenapa demikian?

Siap Mental Dan Ridho

Kesiapan mental dan ridho menerima apapun ketentuan Allah diantaranya; 

  • Ikhlas menerima bagaimanapun ketentuan Allah tentang jodoh pada dirinya.
  • Ridho menerima jika pernikahannya cepat
  • Ridho menerima jika pernikahannya lama (telat) 
  • Ridho menerima dengan siapapun jodoh yang Allah anugrahkan
  • Ridho menerima jika seandainya Allah tidak pertemukan dia dengan jodohnya di dunia
  • Ridho menerima kelebihan serta kekurangan pasangan ketika sudah menikah kelak

Bangun Komunikasi Dengan Orang Tua Kita

“Sejatinya pernikahan bukanlah hanya pertemuan kamu dan dia, tapi juga pertemua keluargamu dengan keluarganya dia”

Ya, begitulah pernikahan menyatukan dua keluarga besar yang berbeda, berbeda latar belakang, berbeda adat kebiasaan, berbeda pendidikan dan berbeda juga seleranya.

Kenali Tipe Orang Tua Kita

Dalam komunikasi yang indah dan baik serta santun, sebelumnya tentu kita lebih kenali tipe orangtua kita .

Tipe orang tua yang moderat, tetapi tetap mempertahankan nilai-nilai konservatif budaya.

Mereka termasuk orang yang memiliki hubungan sosial baik dengan lingkungan sekitarnya, dan sering dilibatkan dalam pesta pernikahan kerabat dan rekan dekat. Dalam setiap pernikahan, mereka selalu terlibat di garis depan.

Komunikasi utama tentu diskusikan tentang adat dan perlahan dengan lembut dan santun masukan unsur-unsur Islam.

Tipe orang tua dari kecil selalu menanamkan kepada anak anaknya untuk tidak buru-buru menikah, sebelum mapan.

Permasalahannya kata mapan yang ditanamkan itu mempunyai ekspetasi yang sangat tinggi.

Perlu ekstra hati hati menjelaskan menikah itu adalah untuk membangun kemapanan bukan menunggu untuk mapan dulu.

Tipe orang tua yang terkubur kekhawatiran mereka sendiri.

Sepertinya terlalu cepat bagi mereka untuk melepaskan timangan mereka selama ini kepada anaknya. Kekhawatiran mengenai kemandirian, kematangan sikap, serta kehilangan tempat curahan kasih sayang, adalah hal yang sangat dominan tampak. Tapi alasan yang dimunculkan oleh orang tua berputar di wilayah unggah-ungguh ngelancangi kakak, mau tinggal di mana setelah nikah, harus menunggu adikku lulus sekalian, dan alasan-alasan lain yang substansinya tidak mengarah kepada kekhawatiran  orang tua yang paling utama. Sebagai bentuk perubahan orang tua menjelang hari tuanya. Sehingga menentukan “kapannya” nikah belum siap.

Kadang tiba-tiba mereka bisa menjadi seperti anak kecil lagi. Kadang pemikirannya jadi tidak logis. Dasarnya mereka itu belum siap,

Mengalami fase di mana anak-anak mereka sudah tidak terlalu memerlukan peran dari mereka. Fase di mana mereka seperti sudah tidak berarti lagi buat anak-anaknya. Mereka takut anak-anaknya akan meninggalkan mereka.

Banyak sekali dari manula-manula yang mengalami fase ini, ketika berumur di atas 60-an tahun. Tetapi tidak menutup kemungkinan, orang tua kita lebih dini mengalaminya. Apalagi anak-anaknya hampir dalam waktu yang sangat singkat, pergi satu demi satu ke luar dari kediaman orang tua.

Komunikasi dibangun dengan meyakinkan orang tua kalau kita selalu ada untuk mereka.

Berusaha untuk Biruwalidayin dan tentunya diazzamkan dari awal disertai dengan tawakaltu ‘alallah.

Hal Apa Sajakah Yang Harus Dibicarakan Dengan Orang Tua…?

Sudah semestinyalah setiap anak mendiskusikan perihal *jodoh* pada orang tuanya jauh-jauh hari sebelum menikah.

Salah satu kekeliruan yang sering terjadi adalah ketika sang anak menginformasikan kalau ia akan menikah secara dadakan pada orang tua, tidak mengkondisikan orang tua jauh-jauh hari.

Akibatnya terjadi perseteruan antara anak dengan orang tua apakah itu tentang kriteria jodoh yang tidak direstui orang tua padahal si anak udah suka, apakah terkait biaya dan mahar (ada sebagian keluarga yang memberi standar dengan angka rupiah tertentu), termasuk juga dengan kebiasaan-kebiasaan dalam proses pernikahan dan pesta.

Kalau hal ini dibicarakan secara dadakan dengan orang tua tentu tidak mudah apalagi bagi orang tuanya yang memegang kuat adat. Jadi hal ini dibicarakan pelan perlahan sejak jauh-jauh hari secara baik-baik dengan orang tua.

🍁 *Kriteria Jodoh*

Diskusikan dengan orang tua, tanya ayah – ibu kita beliau menginginkan calon menantu dengan kriteria seperti apa? usia, agama, kedudukan, pendidikan, keturunan, dan lain-lain. Tentu dengan mengutamakan agama sebagai kriteria utamanya.

🍁Terkait *mahar, biaya *“antaran”* atau istilah lainnya. Sampaikan pada orang tua tentang bagaimana islam dalam menentukan mahar.

🍁Komunikasikan pada orang tua tentang *pernikahan sederhana* dan islami

Pesta dan segala pendukungnya, harus dikomunikasikan dan didiskusikan mau seperti apa nanti pestanya jika itu pesta.

🍁 *Pasca pernikahan*, ini juga penting karena tak sedikit juga masalah timbul disini seperti mau tinggal dimana, ada beberapa orang tua yang mengharuskan anaknya tinggal dirumahnya, ada juga yang meminta untuk tinggal berdekatan tidak boleh jarak jauh dan ada juga yang membebaskan anaknya. Biasanya jika orang tuanya sudah usia lanjut maka orang tua akan minta anaknya untuk tinggal bersama atau berdekatan.

🍁 *Waktu menikah*

Ada beberapa orang tua meminta anaknya menikah cepat sedini mungkin, namun ada juga yang meminta anaknya menikah di usia yang sudah matang. Jadi hal ini juga perlu dibicarakan.

⚛3⃣⚛

_Sahabat AIHQ yang dimuliakan Allah_

💬Satu hal yang perlu kita ingat adalah…

*SADARKAN DIRI KALAU KITA MENIKAH DENGAN MANUSIA BUKAN MALAIKAT*

⚡Banyak pernikahan yang gagal disebabkan karena terlalu menuntut kesempurnaan, atau disaat kenyataan tidak sesuai dengan harapan. Berharap ketika sudah menikah ada pasangan yang mendampingi semua terasa bahagia, serba menyenangkan ketika berduaan, berharap ada yang mengayomi dan selalu ada yang mendengar setiap saat, berharap ada yang membeli apapun yang diminta serta harapan-harapan lainnya.

⚡Namun setelah menikah ternyata tidak merasakan apa yang diharapkan, kekecewaan mulai dirasakan mungkin karena sang pasangan yang cuek, tidak mau mendengarkan keluh kesah, tidak ada kesepakatan dalam setiap komunikasi hingga ketika berbicara hanya berujung pada pertengkaran.

Saudaraku,…

🙇🏻Sadarilah kita menikah dengan “Manusia” bukan malaikat, sadarilah pernikahan bukan taman bunga yang serba indah, manis dan menyenangkan.

🙇🏻 Sadarilah pernikahan membutuhkan kesadaran untuk saling menerima dan memahami. Menerima apapun kondisi jodoh yang Allah pilihkan untuk kita, menerima dengan lapang dada jika ada kekurangannya, coba ingatkan pelan perlahan. Memahami bagaimana ia berbicara, memahami sikapnya, sifatnya dan lain sebagainya.

🙇🏻Jangan mencari kesempurnaan tapi belajarlah menerima dengan sempurna, In syaa Allah akan bahagia.

_Demikianlah saudaraku semua itulah hal- hal penting yang mesti diketahui sebelum menikah, semoga bermanfaat bagi sahabat semua sebagai bekal dalam hari-hari penantiannya._

Wallahu A’lam bishawab

About Global Muslim

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Advertisement