Fikroh.com - Pasukan Demokratik Suriah (SDF) telah mencapai kesepakatan untuk bergabung dengan pemerintah baru Suriah. Pada 10 Maret 2025, Presiden sementara Suriah, Ahmed al-Sharaa, dan pemimpin SDF, Ferhat Abdi Şahin (juga dikenal sebagai "Mazloum Kobani"), menandatangani perjanjian yang menekankan persatuan Suriah. Kesepakatan ini mencakup integrasi semua lembaga sipil dan militer di timur laut Suriah ke dalam administrasi negara, termasuk pengendalian perbatasan, bandara, serta ladang minyak dan gas.
Selain itu, SDF setuju untuk mendukung pemerintah Suriah dalam memerangi sisa-sisa rezim Bashar al-Assad dan segala ancaman terhadap keamanan serta persatuan negara. Kesepakatan ini juga menjamin hak-hak komunitas Kurdi, termasuk penggunaan bahasa mereka, yang sebelumnya dilarang selama rezim Assad.
Dengan kesepakatan ini, wilayah yang sebelumnya berada di bawah kendali SDF kini akan berada di bawah kendali penuh pemerintah Suriah, mengakhiri upaya pemisahan dan memperkuat integrasi nasional.
Setidaknya ada lima faktor kunci di balik perjanjian bersejarah SDF dengan pemerintah baru Suriah.
Pertama, gabungnya SDF tak lepas dari kegagalan pemberontakan eks loyalis Assad kepada pemerintah baru Suriah di Latakia dan Tartus. Kegagalan ini kian meyakinkan SDF untuk melakukan integrasi di Suriah.
Kedua, Ada jaminan hak-hak bangsa Kurdi yang diberikan oleh Ahmad Sharaa yang tak sebelumnya tak dilakukan rezim sektarian Assad. Seperti jaminan pengajaran dan penggunaan bahasa Kurdi, yang sebelumnya dilarang selama puluhan tahun di bawah rezim Assad.
Ketiga, ada peran Turki dalam perjanjian bersejarah ini di mana sebelumnya PKK sebagai induk SDF telah mendeklarasikan gencatan senjata dengan Ankara dan pembubaran diri. Kesepakatan Suriah tak lepas dari satu rangkaian yang sama dari kesepakatan bersejarah antara Turki-PKK
Keempat, ini juga bagian dari diplomasi Erdogan yang bisa meyakinkan Trump agar Washington tidak ikut cawe-cawe di Suriah dan mendesak AS untuk menarik diri dari dukungannya kepada PKK
Kelima, ini juga bentuk kegagalan manuver Iran dan Israel yang memanfaatkan separatis PKK untuk memecah belah Suriah. Aspirasi masyarakat Kurdi secara keseluruhan untuk terus bersama pemerintah Suriah dan melihat adanya kesungguhan Ahmad Sharaa untuk membangun Suriah yang inklusif telah mengalahkan pemberontakan yang diprovokasi Iran dan Israel
Tags:
News